BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Bulutangkis adalah
permainan yang sudah popular di Indonesia. Permainan bulutangkis merupakan
olahraga yang dimainkan dengan menggunakan net, raket, dan shuttlecock dan dimainkan dengan berbagai gerakan variasi mulai
dari yang relatif lambat hingga yang sangat cepat disertai dengan gerakan
tipuan (James Poole 2002: 3). Permainan ini dapat dimainkan secara beregu
maupun perorangan, baik pria maupun wanita atau dapat pula secara campuran.
Bulutangkis merupakan suatu permainan kecil merupakan materi yang diajarkan di
sekolah dasar khususnya kelas atas.
Sekolah
Dasar Negeri 2 Samigaluh Kulon Progo adalah sekolah yang berlokasi dipadukuhan
Sebo, Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kuln Progo yang sebagian
mata pencaharian penduduk adalah petani. Sekolah ini mengajarkan permainan
bulutangkis bagi siswa kelas atas. Pembelajaran permainan bulutangkis
disekolah, khususnya di Sekolah Dasar Negeri 2 Samigaluh Kulon Progo sangat
mendukung proses pencapaian kebutuhan aktivitas gerak bagi anak didik, namun
demikian dalam pembelajarannya masih banyak terjadi kendala dan hambatan.
Hambatan
tersebut diantaranya berasal dari siswa karena siswa membawa potensi dan
pengalaman gerak masing-masing, disamping itu peralatan seperti shuttlecock dan
raket tidak mudah disediakan dalam jumlah yang cukup, di SDN 2 Samigaluh Kulon
Progo hanya mempunyai 8 buah raket, 1 buah net, persediaan shuttlecock yang
terbatas, dan lapngan yang hanya memanfaatkan halaman sekolah, bukan lapangan
permanen. Hal tersebut diatasi oleh guru dengan memodifikasi raket dengan kayu
berbentuk seperti bet tenis meja, memodifikasi bola dengan balon, selain itu
menghimbau agar pada setiap pembelajaran bulutangkis anak-anak yang mempunyai
raket membawanya kesekolah sehingga anak-anak akan banyak mendapatkan giliran
bermain. Mereka merasa senang dan mau membawa raketkesekolah, teapi ada anak
yang tidak mempunyai raket dan mengatakan bahwa raket itu mahal, dan masih ada
anak yang mengatakan bahwa bulutangkis itu sulit karena sering meleset dalam
memukul, raketnya berat, shuttlecock cepat rusak, dan sebagainya. Hambatan yang
lain adalah bahwa permainan bulutangkis merupakan permainan yang berat
aktivitasnya, karena bola dipukul terus menerus tanpa diseling dengan pantulan
bola, sehingga membutuhkan kondisi tubuh yang benar-benar sehat dan bugar.
Siswa
kelas 4, 5 , 6, atau kelas atas adalah anak-anak yang berumur antara 10-12
tahun yang mempunyai karakteristik senng bermain, senang bergerak, senang
bekerja dalam kelompok, dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara
langsung.
B.
Hipotesis
Dari latar belakang masalah yang telah
diuraikan diatas didapatkan hipotesis sebagai berikut :
1. Belum
diketahuinya minat siswa kelas atas SDN 2 Samigaluh Kulon Progo terhadap
pembelajaran bulutangkis
2. Masih
adanya hambatan-hambatan dalam pembelajaran bulutabgkis pada kelas atas SDN 2
Samigaluh Kulon Progo dari segi sarana dan prasarana
3. Masih
ada siswa yang bermalas-malasan dan tidak semangat dalam mengikuti pembelajaran
bulutangkis.
C.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan
Hipotesis, maka rumusan masalah adalah : Seberapa tinggi minat siswa kelas atas
sekolah dasar negeri 2 samigaluh kulon progo terhadap pembelajaran bulutangkis
?.
D.
Metode
Penelitian
Dalam penelitian ini
menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan data menggunakan angket.
Penelitian ini bermaksud mengetahui seberapa tinggi minat siswa kelas atas di
SDN 2 Samigaluh Kulon Progo terhadap pelajaran bulutangkis, dan berusaha
mencari informasi, gambaran secara teratur, ringkas dan jelas mengenai suatu
gejala, peristiwa sehingga didapatkan kesimpulan tertentu.